Bismillah,
Dengan
tulisan ini saya -yg masih pemula- ingin mengingatkan teman2ku sekalian yang
-anggaplah- bukan pemula lagi dalam masalah ilmu syar’i untuk tetap memelihara
keikhlasan, menjaga hati dari penyakit2 hati yg samar, konsisten dalam
beribadah -walau sedikit tapi kontinu-, mengejar keutamaan, dll.
Kadang
ketika saya melihat sebagian teman saya yg -sebutlah- awam -sebagaimana awamnya
kaum muslimin pada zaman ini dalam masalah ilmu syar’i- tapi tidak dikenal
dengan perbuatan dosa besar atau bid’ah, saya menjadi berpikir apa iya teman2ku
yg -anggaplah- bukan pemula lagi dalam masalah ilmu syar’i, yg zhahirnya
semangat dalam beragama itu otomatis lebih mulia dari mereka [org2 awam] di
sisi Allah? Wallahua’lam.
Mungkin
mereka [orang2 awam itu] bukan tukang ngaji [ngaji kitab gundul di majlis
ilmu], ga bisa bahasa arab, ga bisa meneliti keotentikan sebuah atsar dan ga
tahu kaidah-kaidah dalam memahami teks2 keagamaan secara benar.
Mungkin
mereka ga tahu apa itu marfu’, majzum, manshub, majrur, wazan2 fi’l, dll
Ga
tahu apa itu syadz, ‘illat, idhtirab, ikhtilath, tadlis, mutab’ah, syawahid,
ziyadah ats-tsiqah, dll
Ga
tahu apa yg harus dilakukan jika menemui tanaqudh bainal adillah, khilaf bainal
‘ulama, dll
Namun
bisa jadi mereka [orang2 awam] itu jauh lebih ikhlas,
Jauh
dari riya’
Jauh
dari cinta terhadap popularitas, sanjungan atau pengakuan
Jauh
dari dengki
Jauh
dari fanatisme terhadap kelompok/tokoh
Jauh
dari perdebatan tanpa ilmu yg -tidak jarang cuma- dipenuhi dengan cacian
Jauh
dari sikap meremehkan orang lain
Jauh
dari sikap tergesa2 dalam memvonis sebuah masalah atau kelompok/person tertentu
padahal ga tahu hakikat masalahnya
Jauh
dari sikap gengsi mengakui kesalahan/kekurangan
Jauh
dari sikap “kalo untuk kelompok saya boleh tapi untuk kelompok kalian ga boleh”
alias standar ganda
Jauh
dari sikap pura2, entah pura2 supaya terlihat hebat, dll
Lisannya
lebih terjaga
Lebih
mau mengintrospeksi diri daripada mencari2 dan memperhatikan kesalahan orang
lain
Dan
jika mereka beribadah maka ibadah mereka kontinu -walau sedikit-, juga bukan
sekedar rutinitas keseharian yg kosong dari makna.
Ya,
bisa jadi orang2 yg -anggaplah- awam memiliki semua sifat2 terpuji tersebut dan
bisa jadi para penuntut ilmu yg bukan pemula lagi malah jauh dari sifat2
terpuji tersebut. Saya bukan su-uzhan tapi saya hanya ingin mengajak teman2ku
-juga diri saya yg masih pemula- untuk sama-sama berkaca, introspeksi diri,
kalau2 ada kekurangan pada diri kita.
Melalui
tulisan ini saya tidak mengatakan: “Ya sudahlah jadi orang awam saja, ga usah
capek2 belajar ilmu syar’i”, sekali2 tidak. Tidak tersembunyi lagi bagi
kita -terutama bagi teman2ku yg bukan pemula lagi- tentang keutamaan ilmu
dan ahlinya. Namun betapa memprihatinkannya jika kita hanya sibuk mengoleksi
ilmu lalu tidak mengamalkannya, atau mengamalkannya tapi tanpa pemaknaan dan
hanya sekedar rutinitas keseharian. Betapa memprihatikannya jika para penuntut
ilmu -terutama yg bukan pemula lagi- jauh dari sifat2 terpuji yg ironisnya
malah dimiliki oleh orang2 awam.
Renungkanlah
tulisan ini…Demi Allah saya tidak bermaksud kecuali mengajak kepada kebaikan
dan jika ada uslub yg tidak mengenakan hati dalam tulisan saya ini maka saya
minta maaf. Bacalah tulisan ini dengan kacamata husnuzhan, bukan dengan
kacamata su-uzhan. Lihatlah tulisan ini sebagaimana tulisan ini adanya bukan
sebagaimana kalian adanya. Unzhur maa qaal walaa tanzhur man qaal…
0 Komentar untuk "seorang pemula untuk orang2 bukan pemula"