HIDUP SUKSES MENURUT SURAH AL-‘ASHR

HIDUP SUKSES MENURUT SURAH AL-‘ASHR

A.     Pendahuluan

Surat al-‘Ashr ini terdiri dari tiga ayat. Menurut Ibn Abbas, Abdullah bin Zubair dan Jumhur Ulama, surat ini diturunkan di Mekah. Namun mujahid, Qatadah dan Muqatil berpendapat bahwa surat ini diturunkan di Madinah sesudah surat al-Insaayirah.[1] Teks surat sebagai berikut:
 
 

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

B.     Hidup Sukses

Jika surat al-‘Ashr ini diamati secara seksama, maka akan kita temui rumusan konsep hidup manusia sukses di dunia dan di akhirat. Pada surat ini tergambar tentang problem kehidupan manusia yang tidak mampu memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan seefektif mungkin; begitu juga semua karya mereka tidak dilandasi oleh motifasi iman; sehingga kehidupan mereka diklaim oleh Allah SWT sebagai kehidupan yang merugi (Khusr).[2]
Kerugian tersebut bisa berwujud dalam bentuk duniawi ataupun ukhrawi. Bentuk kerugian duniawi misalnya seseorang yang tidak dapat mempergunakan waktunya dengan baik, apalagi menyia-nyiakannya, maka kehidupan orang tersebut akan mengalami banyak kesulitan; dan akan tipislah tercapainya tujuan; atau besar kemungkinan cita-citanya gagal.[3]
Begitu pula halnya orang yang terlalu memusatkan perhatiannya terhadap materi duniawi, sementara ia melupakan kehidupan ukhrawi, kehidupan seperti inipun akan mendapatkan kerugian besar. Pada prinsipnya sejumlah harta yang dikumpulkan itu tidak ada manfaatnya--jika tidak digunakan dalam hal-hal yang positif karena ketika seseorang meninggal dunia maka seluruh harta itu akan ditinggalkan dengan begitu saja.
Berdasarkan pertimbangan di atas, Allah SWT memberikan peringatan (tazkirah) yaitu diawalinya surat ini dalam bentuk qasam. Ia menggunakan muqsam bihnya dengan al-‘ashr; hal ini memberikan isyarat bahwa faktor waktu/kesempatan dan pemanfaatannya merupakan prasyarat penting yang akan mengantarkan manusia hidup sukses di dunia dan di akhirat. Allah SWT sangat
sayang kepada hamba-Nya dengan memberikan jalan keluar dalam bentuk rumusankonsep hidup manusia sukses.

A.     Unsur Hidup Sukses

Untuk terwujudnya hidup sukses menurut surat ini ada 4 unsur yang harus dipenuhi, dan kesemua unsur tersebut saling terkait, yaitu:
Unsur pertama: Iman yang mantap.
Persyaratan utama untuk mengarungi kehidupan di dunia ini adalah adanya pembekalan iman yang mantap yang bersumber dari hati sanubari yang suci. Iman dalam artian membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan merealisasikannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan positif yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw yang tertuang di dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.[1]
Dengan bekal iman, seseorang hanya menyembah kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa; dan dengannya akan muncullah pada pribadi orang tersebut adanya rasa persamaan, rasa solidaritas sosial yang tinggi, dan rasa penghargaan atas hak-hak asasi manusia (HAM) sesamanya. Sebab, pada hakikatnya, manusia tidak ada yang lebih tinggi, dan atau tidak ada yeng lebih hina kecuali orang-orang yang dimuliakan oleh Allah yaitu orang-orang yang bertakwa.[2] Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. 49: 13 yang berbunyi:


[1] Sayyid Quthub, op. cit., hal. 652
[2] Ibid.


[1]   Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Juz XXX, hal. 233. lihat pula: Ruh al-Ma’ani, hal. 227.
[2] Sayyid Quthub, op. cit., hal. 651
[3] HAMKA, op. cit., hal. 235
“...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu...”. (QS. Al-Hujurat/49: 13).
Di samping itu, iman merupakan dasar dan kunci serta barometer kehidupan; dari padanya terpencar segala aspek kebaikan. Oleh karena itu, Allah menyatakan di beberapa ayat Al-Qur'an tentang sesuatu perbuatan baru mempunyai nilai atau kwalitas, jika pelaksanaannya dilandasi oleh iman. Sebaliknya, jika perbuatan itu dilandasi oleh unsur kekufuran maka perbuatan tersebut tidak mempunyai nilai bagaikan abu yang ditiup angin keras (lihat QS. 14: 18) atau bagaikan fatamorgana
 
Unsur Kedua: Amal saleh (Perbuatan atau karya nyata yang positif).
Amal saleh merupakan manisfestasi dari iman yang terpancar dari jiwa seseorang; atau dengan perkataan lain amal saleh merupakan buah dari iman. Imanlah yang mendinamisasikan perbuatan seseorang yang dimotifisir oleh semangat lillahi ta’ala. Di samping itu , iman berfungsi sebagai pengendali gerak perbuatan seseorang sesuai dengan aturan main yang ditetapkan oleh Allah SWT.[1]
Sepanjang pengamatan penulis kata “amanu” sering berdampingan dengan kata “ ’amilu al-Shalihat”; hal ini memberikan isyarat bahwa iman tanpa disertai dengan amal, itu tidak akan bernilai apa-apa, dan sebaliknya, jika amal tanpa dilandasi oleh iman, maka amal tersebut


[1] Sayyid Quthub, op. cit., hal. 656

Unsur Ketiga: Saling Berwasiat dalam Kebenaran

Jika unsur yang pertama dan kedua terpencar dan dilaksanakan oleh masing-masing individu, maka unsur yang ketiga mengajarkan kepada setiap orang agar saling mengingatkan dan berpesan antar sesamanya dalam kebenaran. Saling isi-mengisi dan saling memberikan informasi dalam hal kebenaran itu tentunya disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang ada pada masing-masing individu. Dengan cara ini akan terealisir rasa persatuan dan kesatuan serta semangat ukhuwah Islamiyah yang dilandasi oleh kebenaran.[1]
Namun, proses untuk menuju jalan kebenaran itu tidaklah mudah, di sana banyak liku-liku yang mesti dilalui antara lain:
  1. Kemampuan pengendalian diri dari masing-masing pihak bervariatif;
  2. Kondisi lingkungan, terkadang kurang kondusif;
  3. Adanya kesesatan dan kezaliman di masyarakat bersifat fluktuatif.
  4. Pemerintah yang berkuasa terkadang adil dan kebanyakan zalim.[2]

Unsur keempat: Saling berwasiat dalam kesabaran

Terwujudnya unsur kesatu, kedua dan ketiga sangat bergantung kepada kwalitas dan frekwensi ketabahan seseorang tersebut. Sebab, dalam kenyataannya banyak sekali ganjalan dan kendala menuju hidup sukses; baik yang berasal dari internal maupun yang datang dari eksternal.


[1] Sayyid Quthub, loc. cit
[2] Sayyid Quthub, loc. cit


0 Komentar untuk "HIDUP SUKSES MENURUT SURAH AL-‘ASHR"

Back To Top